Amat besar kebenciannya di sisi Allah sekiranya kamu memperkatakan sesuatu yang kamu tidak melakukannya [61:3]
Baru beberapa hari lepas kami sembang pasal dia. Dia, si anak melayu lelaki yang hilang tiga tahun kemudian tau-tau dah kahwin dengan lelaki. Tak sangka, chatting kosong antara aku dan Khairul Danial rupa-rupanya akan terjawab beberapa hari lepas tu.
Aku terfikir, berapa banyak dosa orang pertama yang dedahkan berita ni dapat, dia akan tanggung ke? Was it worth it to be sent to the Fire just to increase your blog's traffic? Aku curious, ya, jadi aku pun bukak lah link-link yang dikongsi tu. Just like MalaysiaKini and hundreds of other blogs, underneath a post are Facebook comment boxes with beautiful supportive comments.
Pattern 1: Komen-komen menghina yang tak membantu sesiapa. Bayangkan tiga orang, si A, si B dan si C. A buat salah, B dapat tau tapi dia tak tegur si A, B bagitau si C supaya A ni bertaubat.
Pattern 2 : Komen-komen bajet islamik. "Woi, kau ni bodoh ke apa? Tak takut neraka ke?" and the like. Isn't it ironic that you're telling someone to be afraid of Hell when what you're actually doing is bound to push you into it? Atau komen-komen seperti "Astaghfirullah, dunia akhir zaman." Seseorang itu hanya akan menambah masalah, dan bukan menyelesaikan masalah sekiranya dia tidak memberi idea penyelesaian.
Pattern 3 : Budaya gosip. Orang-orang kita, suka betul pada berita-berita tak jelas sumbernya, yang berbentuk conspiracy theory, yang tak tahu bagaimana hujung pangkalnya.
I think it's enough if I put her a quote from this brilliant half-chinese friend of mine :
Dear
kawan-kawan. Tolongla stop share article pasal budak lelaki Dublin tu.
First, banyak pelajar asing kat FB ni and this will affect our image as
Malaysians. He is not proof that our moral credibility as a country has
diminished. Second, tak baik buka aib orang. Memang nak jadi sebagai
teladan bagi lain tapi this is not the way to do it. I'd hate if it were
my family or friend being plastered on the net for committing depraved
acts.. That is all.
But the main point I would be glad to stress here is the gossiping culture, or what it represents. How our minds are used to discuss useless, pointless topics. Kita sibuk dengan hal-hal kecil sampai kita taktau nak menyusun prioriti. Semua sibuk tengok Running Man, drama Korea, sitcom US, baca manga, main PES, leveling. Kita punya side activity banyak sangat sampai main activity kita tergadai. Tak salah untuk berseronok, tapi yang jadi salah bila kita melampaui batas, dan Tuhan sudah berkali-kali sebut tentang manusia-manusia yang melampaui batas.
Jadi, lahirlah insan-insan berumur 40 tahun yang masih merangkak membaca surah al-Fatihah. Atau yang membongkok menonggeng tapi taktau kenapa dia ruku'?
Even the musics and movies we so love and honor have become shallower, simpler with repeated endings. We used to have M.Nasir, now we have Akademi Fantasia. Musics and movies represent the things that we used to distract ourselves from the more important things, now has become nothing more than just sounds and moving pictures of good looking people fitting our hidden sexual desires. So now we cannot give constructive comments about anything. We cannot create new ideas and we stay away from things that make us think.
Most of us, instead of thinking how did the guy end up in a gay marriage, we insulted him in the name of Allah, which, of course is a disgrace. Most of us would rather talk about why did Apek break up with his fiance than how to decrease the number of children being born out of wedlock. Most of us would complain and complain but not many of us is willing to contribute to rebuild the rightful world order.
So what is our purpose of living? Is it to be just yet another burden to society?

Dan demikianlah (sebagaimana Kami telah memimpin kamu ke
jalan yang lurus), Kami jadikan kamu (wahai umat Muhammad) satu umat
yang pilihan lagi adil, supaya kamu layak menjadi orang yang memberi
keterangan kepada umat manusia (tentang yang benar dan yang salah) dan
Rasulullah (Muhammad) pula akan menjadi orang yang menerangkan kebenaran
perbuatan kamu. (Sebenarnya kiblat kamu ialah Kaabah) dan tiadalah Kami
jadikan kiblat yang engkau mengadapnya dahulu itu (wahai Muhammad),
melainkan untuk menjadi ujian bagi melahirkan pengetahuan Kami tentang
siapakah yang benar-benar mengikut Rasul serta membenarkannya dan siapa
pula yang berpaling tadah (berbalik kepada kekufurannya) dan
sesungguhnya (soal peralihan arah kiblat) itu adalah amat berat (untuk
diterima) kecuali kepada orang-orang yang telah diberikan Allah petunjuk
hidayah dan Allah tidak akan menghilangkan (bukti) iman kamu.
Sesungguhnya Allah Amat melimpah belas kasihan dan rahmatNya kepada
orang-orang (yang beriman) [2:143]